Kamis, 03 September 2009
Sabtu, 29 Agustus 2009
Shalat dan Otak Manusia

Seorang Doktor di Amerika (Dr. Fidelma) telah memeluk Islam karena beberapa keajaiban yang di temuinya di dalam penyelidikannya. Ia amat kagum dengan penemuan tersebut.
Dia adalah seorang Doktor Neurologi. Ketika ditanya bagaimana dia tertarik untuk memeluk Islam maka Doktor tersebut memberitahu bahwa sewaktu kajian saraf yang dilakukan, terdapat beberapa urat saraf di dalam otak manusia ini tidak dimasuki oleh darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan darah yang cukup untuk berfungsi secara yang lebih normal.
Setelah membuat kajian yang memakan waktu, akhirnya dia menemukan bahwa darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak tersebut melainkan ketika seseorang tersebut bersembahyang yaitu ketika sujud. Urat tersebut memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat tersebut mengikut kadar shalat lima waktu yang diwajibkan oleh Islam. Begitulah keagungan ciptaan Allah.
Jadi, barangsiapa tidak menunaikan sembahyang, maka otaknya tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal. Oleh karena itu kejadian manusia ini sebenarnya adalah untuk menganut agama Islam “sepenuhnya” karena Sifat fitrah kejadiannya memang telah dikaitkan oleh Allah dengan agamanya yang indah ini.
Kesimpulan :
Makhluk Allah yang bergelar manusia yang tidak shalat walaupun akal mereka berfungsi secara normal tetapi sebenarnya di dalam sesuatu keadaan mereka akan hilang pertimbangan di dalam membuat keputusan secara normal. Justru itu tidak heranlah manusia ini kadang-kadang tidak segan-segan untuk melakukan hal hal yang bertentangan dengan fitrah kejadiannya walaupun akal mereka mengetahui perkara yang akan dilakukan tersebut adalah tidak sesuai dengan kehendak mereka karena otak tidak bisa untuk mempertimbangkan secara lebih normal. Maka tidak heranlah timbul bermacam-macam gejala-gejala sosial masyarakat saat ini. []
Sumber: National Geographic 2002 Road to Mecca
Kutipan dari http://hudzaifah.org/Article430.phtml
Senin, 24 Agustus 2009
SIAPA ANDA ?

Setiap bayi yang baru dilahirkan ke dunia, dilahirkan dalam keadaan fitroh atau suci , dari rahim siapapun bayi itu dilahirkan tanpa terkecuali , kesucian anak manusia itu akan diwarnai oleh kedua orang tuanya , Ibu memegang peranan yang sangat penting bagi anak-anaknya dibanding peranan seorang Ayah , Ibu memiliki andil yang besar terhadap perkembangan mental , perangai , tabi’at , akhlaq ( moral ) dan hobby ( minat ) bahkan juga pengetahuan anak terhadap lingkungan disekitarnya karena seorang Ibu lebih sering bersama Anaknya dibanding seorang ayah .
Talenta anak berkembang seiring dengan waktu waktu yang dilalui bersama siapapun kebersamaan anak itu . ada pepatah mengatakan berteman dengan “ tukang minyak wangi “ kita akan terkena wanginya dan berteman dengan “ tukang cat “ kita akan terkena cat , ada juga yang mengatakan “ buah akan jatuh tidak jauh dari pohonnya “ , inilah sebuah pepatah yang mungkin sangat mudah untuk dimengerti maksudnya ,
Fitrah seoarang bayi adalah semuanya sama suci dan tanpa dosa , tetapi kelebihan masing-masing akan berbeda , Karena Allah memberi kepada sesuatu kelebihan yang berbeda , Talenta anak, kita ibaratkan bagaikan bejana atau tabung ( gelas ) yang memiliki kapasitas volume berbeda - beda , alangkah benar jika kita mengetahui ukuran volume ( isi ) bejana itu agar kita tidak akan berlebihan mengisi air kedalam bejana itu karena tahu ukurannya , namun alangkah salahnya kita jika tidak mengetahui ukuran volume ( isi ) bejana itu karena bisa saja kita akan kelebihan mengisi air kedalamnya atau bahkan kurang isinya , itulah sebuah perumpamaan bahayanya jika kita tidak mengenali Talenta .
Bahkan mungkin kita juga tidak tahu talenta masing-masing , maka sering – seringlah bertanya “ Who am I ?“ “siapa saya ini ?” …. Anda ingin tahu Siapa Anda ? mari kita cari tahu bersama , bergabunglah bersama PONDOK PESANTREN TALENTA .
Minggu, 23 Agustus 2009
Kyai Tholhah
Kiai Tholhah, Sosok Kiai Multi Talenta
“Makna multitalenta yang terdapat dalam pribadi Kyai Tolhah Hasan karena dalam diri Pak Tohah terdapat pribadi kiai dan ulama, birokrat dan bisnisman” kata-kata demikian di sampaikan Prof. Dr. Nasarudin Umar, Dirjen Bimas Departemen agama sekaligus rector PT IIQ ketika memberikan sambutan atas nama tim penulis dalam acara launching buku biografi Kyai Tolhah Hasan, di Jakarta (27/4/2007). Hadir sebagai pembicara, KH. Hasyim Muzadi, ketua umum PBNU, Nasaruddin Umar, Dirjen Bimas Islam, Solahuddin Wahid, dan Masykuri Abdillah. Sedangkan Komarudin Hidayat, rector UIN Jakarta didaulat menjadi moderator. Launching yang di gelar di Hotel Acacia ini dihadiri sejumlah ulama, tokoh agama, akademisi, aktivis, dan mahasiswa.
Sepanjang perjalanannya. Kiai Tholhah, panggilan akrab KH. Tholhah Hasan, sedikit berbeda dengan kebanyakan kiai-kiai terutama dalam lngkungan kiai nahdliyyin. Kiai Tholhah memiliki kepedulian dan konsentrasi dalam hal memperjuangkan pendidikan. Gebrakan yang pernah dilakukannya adalah memasukan mata pelajaran umum lebih banyak dibanding mata pelajaran agama. Sesuatu yang awalnya dianggap aneh dalam pendidikan warga NU. Komitman terhadap pemberdayaan manusia mengantar Kaia Tholhah menduduki kursi rektor di Universitas Islam Malang (UNISMA). Di UNISMA lah Kiai Tholhah semakin menunjukan kepeduliannya dan mematangkan langkah perjuangan dalam bidang pendidikan. Untuk kemudian mengantarkan belian menjadi Mentri Agama pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid.
”Tidak menutup kemungkinan jika seorang ulama menjadi bisnisman atau birokrat, pintu akan selalu terbuka. Bedanya jika ulama yang menjadi birokrat maka ruhnya tetap ulama yaitu takut kepada Allah,” tegas KH. Hasyim Muzadi menanggapi lika-liku menjadi ulama. Seraya menyebutkan beberapa kriteria seorang ulama, di antaranya memiliki ilmu yang amaliyah, ilmu yang ilmiyah, amal yang ilmiyah. Istiqomah, mengenal zamanya dan takut kepada Allah. Kriteria itu akan membedakan ulama dengan siapapun termasuk dengan kiai,” tandasnya. Menurut Kiai Hasyim, Kiai Tholhah adalah perpaduan antara kiai dan ulama. Jadi secara keilmuan tidak diragukan. Selain itu, menurut Pak Hasyim, seorang ulama harus mengenal zamannya. Pengetahuan ilmu yang dimiliki ulama harus diterapkan sesuai kondisi zamanya. Misalnya untuk Indonesia yang multikultural, tidak bisa diterapkan fiqih ahkam, yang pantas diterapkan adalah fiqih dakwah. Karena, selain multikultural, umat Islam Indonesia belum syar’i. Inilah hal fundamental yang membedakan ulama dengan tokoh agama. Ulama tidak akan menjadikan ilmunya sebagai fitnah. Artinya ulama bukan tidak mengetahui hukum segala sesuatu yang menyangkut soal agama, akan tetapi ulama akan terlebih dahulu melihat kondisi sosial umatnya. ”Ulama tidak menuduh kafir terhadap orang lain. Ulama juga tidak pernah marah-marah, apalagi berbuat anarkis,” tegasnya. Wejangan Kiai Hasyim yang cukup panjang lebar sempat membuat Komarudin Hidayat terkagum-kagum. Hingga sebagai moderator, Pak Koming, demikian panggilan akrabnya, menanggapi bahwa merugi jika warga nahdliyyin tidak merekam kata-kata Pak Hasyim yang semuanya reflektif dan sarat kebijaksanaan.
Sedangkan Utomo Danandjaja, aktivis sekaligus penggagas Universitas Paramadina mengatakan bahwa ia kesulitan mencari hal yang buruk dari diri Kiai Tolhah Hasan. Lebih lanjut, Mas Tom, demikian dia akrab disapa, mengatakan bahwa langkah Pak Tolhah yang peduli terhadap pendidikan formal patut diperjuangkan oleh warga NU. ”Itu adalah cita-cita yang agung, cita-cita membebaskan manusia layaknya Paulo Freire,” tegasnya.
Solahuddin Wahid, adik kandung Gus Dur menyoroti lemahnya perhatian terhadap keberadaan perintah zakat. Selama ini menurutnya, potensi zakat ada di kisaran 10,8 trilun. Angka yang potensial bagi pemberdayaan manusia. Potensi ini tidak banyak dilirik orang. Selain itu, pengorganisasiannya pun masih buruk. ”Orang kaya di luar negeri itu menyumbangkan 50% dari kekayaannya untuk kesehatan, pendidikan, dll. Bukankah itu setara dengan yang dilakukan Sayyidina Abu Bakkar Shiddiq, Umar, Usman, dan Ali?,” tandas Kyai Solah yang dikenal sebagai pengusaha seraya menyebut presenter kondang Oprah Winfrey yang menyumbangkan 100 juta dollar untuk pemberdayaan manusia. Umat Islam sepertinya patut mencontoh zakatnya Oprah Winfrey, tambahnya. [Ufi]
Rabu, 19 Agustus 2009
Banyak orang menerjemahkan talenta sebagai bakat. Dan mereka mengganggap bakat itu bawaan dari lahir, bahkan ada yg menyebutnya sebagai turunan. Benarkah demikian? Seseorang pemain musik yg hebat disebut sebagai orang yg sangat berbakat di bidang musik. Orang yg cakap di suatu bidang disebut berbakat di bidang tersebut. Bagaimana dengan pencopet? Benarkah mereka berbakat sebagai copet? Benarkah bakat mencopet itu bawaan dari lahir? Atau turunan dari orang tuanya?
Saya lebih memandang bakat itu sebagai kecakapan, dan kecakapan dapat diperoleh dengan belajar dan berlatih. Pemain musik itu pasti belajar dan berlatih dengan tekun & ulet sehingga bisa bermain musik dengan baik. Jika bakat itu bawaan lahir, seharusnya pemain musik itu sudah harus bisa main musik sejak lahir. Di sini yg perlu digarisbawahi adalah ketekunan & keuletan. Inilah yg menentukan keberhasilan proses belajar dan berlatih kita. Tanpa ketekunan & keuletan, kita tidak akan pernah bisa menggali potensi diri kita sendiri dan mengaktualisasikannya menjadi suatu hal yg berguna, baik bagi kita sendiri mau pun bagi orang banyak.
Tetapi saya tidak memandang bakat sama halnya dengan talenta. Tuhan memberikan talenta bagi manusia. Dan saya mengartikannya sebagai kesempatan dalam mengaktualisasikan diri kita, tentu dengan bakat kita. Dan hendaknya talenta [kesempatan aktualisasi diri] ini kita pergunakan dengan sebaik-baiknya karena kita harus mempertanggungjawabkannya pada Tuhan. Bukankah orang yg tidak mengembangkan talentanya dan tidak menjadikannya berguna/berarti bagi kita sendiri mau pun bagi orang banyak akan dihukum Tuhan? Jika tidak, Tuhan akan mengambil talenta [kesempatan] itu dari kita dan memberikannya pada orang lain yg mampu menghargai dan mengembangkan talenta.




